Beranda > Demokrasi Indonesia, Opini Pribadi > Demokrasi Transaksional

Demokrasi Transaksional


Demokrasi transaksional,

Selamat malam pembaca yang budiman. Malam ini saya akan coba ulas bagaimana perkembangan demokrasi yang kita rasakan selama lima tahun ini. Pada tulisan penulis sebelumnya “Demokrasi sudah menjadi berhala” sudah mengutarakan bahwa demokrasi perkembangannya setelah pasca reformasi menjadi sebuah berhala-berhala baru di perkotaan bahkan di daerah. Dalam perjalanan demkrasi indonesia berkembang menjadi sebuah transaksi-transaksi politik dan kekuasaan.

Demokrasi
copyright Google Image

Nilai-nilai demokrasi pragmatis sudah menjalar di perkotaan dan di daerah  melalui PILKADA-PILKADA yang ada. PILKADA sejatinya sebuah proses demokrasi untuk menjaring putra dan putri terbaik dari daerah menjadi proses transaksional pemimpin pemimpin daerah. Bupati, Walikota, Gubenur hampir semuanya lahir dari pendekatan pragmatis yang ada walaupun tidak semua .

Pembaca yang budiman sejati demokrasi belum dipahami secra total di daerah bahkan daerah minus akan pendidikan demokrasi bahkan pendidikan secara sebenarnya. Tak ayal demorasi transaksional itu lahir dari calon-calon pemimpin daerah dari BALON-BALON (BAkal CaLON) untung di bukan singkatan yang lain hahaha modus operandi dari bakal BALON-BALON ini adalah dengan adanya jurkam dan team sukses dari sini muncullah produk-produk propaganda. Pamflet-pamflet yang mengotori jalan, Spanduk-spanduk keberhasilan dan kesuksesan BALON yang dari 75% isi Cuma fotonya BALON kadang nggak perlu tulisan atau pendidikan demokrasi yang penting ada gambar BALON beserta kacamata hitam atau gigi yang nongol dikit tidak hanya itu saja pamflet pamflet yang merusak pohon kota penuh dengan Paku-Paku dan kawat-kawat baja. Balon2 yang kaya wajahnya  menghiasi televisi lokal bahkan televisi nasional, berapa rupiah-rupiah yang keluar dari BALON-BALON itu belum lagi serangan fajar, serangan grilya atau agresi militer dan seabrek istillahnya.

Transaksional demokrasi ternyata berkembang lebih jauh dan menyeramkan, selain bersifat real “uang”ternyata demokrasi mengarah pada transaksi kebijakan dan kewenangan antara BALON-Balon incumbent atau yang lolos dan yang tidak lolos putaran kedua. Dan tidak jarang pada etape ini sosial masyarakat diikutkan serasa masalah pesta demokrasi ini. Pesta demokrasi  adalah pesta yang AKBAR seperti great salenya/ night SALE di Mall-MalI🙂

Dollar
Copyright Google Image

Demokrasi transaksional ini juga tega membawa arus masyarakat kedalam konfrontasi yang nyata dan menjurus pada konflik sosial, kalau masyarakat terdidik akan jauh berbeda namun bagaimana  masyarakat yang ada di daerah bahkan di Paling barat indonesia?

terus dimana DEMOKRASINYA….??

ternyata mau tidak mau suka tidak suka kesimpulan yang sederhana adalah BALON2 ini adalah perusak tatanan nilai luhur demokrasi dalam ranah undang-undang dan sosial.  Pesta demokrasi sebagai alat pencari kekuasaan dengan bisnis dagang serta bisnis bisnis kebijakan. Dan Undang-Undang Pemilihan juga ikut andil dalam ranah abu2 dimana kepentingan bisa masuk didalamnnya.

Apakah kita bisa hindari Pragmatis atau transaksional ini?

Mungkin kalau peraturan bedasarkan ahklaq akan lain ceritanya (seperti konsep negara ala Cak Nun : Negara bedasarkan ahklaq bukan Hukum).

Prata yang dijadikan dasar adalah Undang-Undang, undang-undang lain dari penyelenggara yang tidak luput dari kepentingan partai, golongan, keluarga. Coba saja lihat undang-undang pemilu mengenai konsep DPT dan batas elemetary treshold.

……………………………………………………………………………………………………………………….bersambung

Penulis

surabaya

  1. September 16, 2012 pukul 12:53 pm

    Ulasan tentang Hasil Pilkada DKI Putaran Kedua mendatang dapat Anda lihat di situs kami. Bagi warga DKI Jakarta jangan lupa gunakan hak pilih Anda ya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: