Menjaga Integitas Media


Salam hormat pembaca yang budiman,

Dua bulan yang lalu dalam dialog TVRI minggu malam Selamet Rahardjo dan Arswendo AW membahas masalah integitas media dalam kontek materi dan papan dalam produk-produk berita yang di keluarkan.

Sudah lama penulis ingin menulis artikel mengenai ini, dalam tulisan penulis sebelumnya “ media masa sebagai pembentuk opini demokrasi” memberikan pemahaman bagaimana media berperan penting dalam pembentukan demokrasi di Indonesia dan memberikan edukasi kepada masyarakat secara luas.

Dalam dialog TVRI minggumalam waktu itu dihadiri oleh PimRep Majalah TEMPO, Budayawan, Anggota DPR dan anggota KPI (maaf agak lupa karena sudah lama baru nulis). Dalam dialog malam itu ada beberapa point yang menjadi sorotan.

” Bagaimana menjaga integritas media”…………………

“ Apa dampak terhadap produknya?………………………

Era industrialisasi tidak hanya terjadi pada industry berat dan manufacturing seperti yang kita kenal dalam abad 20, idustrialisasi ini sudah mengarah pada Dunia informasi bukan pada Dunia informasi secara hardware melainkan industrialisasi dalam sisi pemberitaan. Dalam dialog malam itu di paparkan seputar bagaimana media menjalankan bisnisnya dan bagaimana Media masa bisa menghidupi dirinya. Pimpinan redaksi majalah tempo mengungkapkan bahwa secara individual media masa tidak terlepas oleh yang namanya sumber pendanaan baik berupa kepemilikan media massa, Sponsor, Coorporate group, bisnis dan lain2 (maklum lupa).

Dan tidak jarang sumber-sumber ini akan berpengaruh terhadap kualitas dari berita dan proses pengarahan opini yang berkembang sehingga tidak jarang-tidak semua-media masa terjerembak bahkan terpelosok sebagai media pemilik atau korporasi tertentu. Sehingga produk-produk informasi menjadi bias.

Penulis tidak mengulas bagaimana kosistensi majalah tempo dalam mengeluarkan poduk bisnisnya, dan bisa survive dalam bisnisnya dan tetap pada jalan kosistensiten sebagai media jurnalistik. Tapi titik tekan dalam hal ini adalah pimpinan redaksi sebagai otoriter penjaga integritas dalam jurnalistik.

Produk, Bagaimana dengan produk yang dikeluarkan?

Pertanyaan ini tidak ada yang bisa jawab mengenai kualitas dari produk yang di keluarkan dan tak jarang secara kasat mata dan kasat pendengaran (istilah baru) bahwa berita yang dihadirkan kurang berkwalitas. Terus apa peranan Dewan Pers, Komite penyelamat informasi atau anggota2 komisi DPR??

Masih panjang mungkin untuk mengetahui peran ini, dan yang paling pasti adalah….dan tidak bukan adalah masyarakat kecil dan menengah kenapa? Karena tidak punya uang untuk pindah ke TV cable karena secara langsung dan tidak langsung mereka akan terobang ambing tentang informasi yang di dapat. Dan mungkin secara tidak langsung bisa terpengaruh terhadap opini2 yang berkembang.

Sayang dari dialog malam waktu itu menyisahkan kembali bahwa masyarakat lagi yang harus pandai2 memilah informasi dan memberian social punishment terhadap media yang dinilai kurang objective akan produk informasinya dengan jalan tidak menontonnya aneh bukan??

Mungkin kedepannya peran Dewan Pers-Komite penyiaran-dan DPR harus mampu berkolaborasi dalam memberikan produk legislasi dalam kontek Penyiaran. Dan kita harap agar disini juga tidak ada korporasi yang ambil bagian atau pengkerdilan……………….(mari optimis)

Bagaimanna dengan TVRI yang sudah mulai bangkit ini akan bertahan berapa lama………..

Jakarta, bulan purnama

Penulis

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: