Beranda > Demokrasi Indonesia, Idea dan gagasan, Opini Pribadi > TVRI : Minggu malam Slamet Rahardjo dan Arswendo

TVRI : Minggu malam Slamet Rahardjo dan Arswendo


Copyrght: Dari google image

selamat Malam,

Pembaca yang budiman. Slamet Rahrdjo dan Aswendo Asmowiloto adalah simbol kekuatan bangkitnya dunia keterbukaan TVRI dalam dunia media massa. Diskusi bersama tiap minggu malam merupakan sebuah kolaborasi dunia jurnalis dan kebudayaan. Jarang kita menemui acara ini di TVRI sebuah obrolan yang objective yang bebas dari propaganda2 plat merah. 

Diskusi ini sangat terbuka, demokrasi dan yang tidak kalah pentingnya adalah penarikan kesimpulan yang di ambil dari garis merah dari pendapat-pendapat undangan. Narator dari sutradara di TVRI dalam mengambil sebuah wacana atau atau topic diskusi juga tidak kalah penting, karena hal ini sungguh mengadirkan kita sebuah gambaran Objective tentang realita kehidupan masyarakat. Sosial berbangsa dan bernegara.

Diskusi ini sangat menarik sekali di hadirkan oleh TVRI, namun saya bertanya-tanya What’s Next?…..

Saya berharap ada acara lompatan dari TVRI yang menghadirkan topic yang bisa di bahas lebih detai dari hasil meneruskan diskusi Umum yang dihadirkan oleh Slamet dan Aswendo. Sehingga akhirnya memberikan penjelasan dan keteladanan serta evaluasi bila ada pembetulan. Sehingga estafet sebuah diskusi atau permasalahan bisa sampai root cause. Dan hal ini juga memainkan peran media massa sebagai media edukasi yang menyeluruh….

Saya yakin topic ini akan banyak dan bisa secara satu-persatu (walaupun aspek komersialnya tidak ada namun kalau pengemasan seperti acara slamet rahardjo pasti banyak yang tonton)

Selamat buat TVRI karena menghadirkan acara diskusi yang baik “ Minggu malam Slamet rahadjo-Aswendo”….. Saya berharap ada estafet acara lain yang bisa menjabarkan atau meneruskan acara ini dengan format lain.

Ayo yang Plat Merah lain TVRI saja sudah berubah……

Tangerang 01 May 2011

Penulis

Mari berkaya

  1. andhika ( 087878177780)
    November 3, 2012 pukul 2:08 pm

    pada acara malam minggu …. saya menyimak yang dibicarakan masalah Pajak …… saya yakin bahwa setiap orang pasti akan dengan sukarela membayar Pajak ….. bila mana system pajak itu fair …. yang menjadi pertanyaan, siapa sih yang wajib membayar pajak ????? secara umum dalam pemikiran saya, yang wajib membayar Pajak adalah orang yang berpendapatan cukup dalam arti kata bisa cukupan untuk hidup sederhana yaitu makan setiap hari, pakaian. kesehatan, transport standard, pendidikan anak2 dan uang lain lainnya yang besifat pokok ( diperlukan ) termasuk biaya berhubungan perbaikan masa depan ( bila ada dan dilakukan ) ………. namun apa yang dilakukan ????? perhitungan pengenaan pajak pada saat ini memang membuat orang menjadi terbiasa untuk tidak membayar pajak ….. mengapa begitu ???????? , PTKP ( pendapatan tidak kene pajak ) saat ini hanya 18 juta Rupiah per tahun …. dalam arti setiap pendapatan diatas 18 Juta pertahun kelebihannya dikenakan Pajak ….. Pertanyaan : apakah cukup untuk hidup layak ???? dengan berpendapatan 18 Juta itu ????? saya yakin jawabnya pasti TIDAK, pengemin saja pendapatan perbulan diatas 1.5 juta artinya pengemis juga harus membayar pajak ……. betulkah harus begitu ?????? bila orang berpendapatan 20 juta per tahun yang untuk hidup saja tidak cukup … harus bayar pajak ….. sorry ya untuk hidup aja ga cukup !!!! ….. begitu juga pada saat pendapatan naik menjadi 25 juta dia masih berkeinginan beli baju yang sedikit lebih baik atau menginginkan sesuatau barang yang belum pernah dia miliki dalam batas yang sangat sederhana …… begitu dan seterusnya akhirnya orang menjadi terbiasa menganggap pajak adalah sesuatu yang tidak layak untuk dibayar ……. itupun termasuk aparat di perpajakan yang berpendapatan rendah …… bila pemerintah berkeinginan untuk mengoptimalkan pemayar pajak …… bukan suatu hal yang susah …. naikan PTKP pada tinggkat yang wajar dan pantas ……… pesti pemerintah akan berkata …. ya kalau gitu pendapatan pajak pasti akan berkurang …… memang akan begitu namun pemerintah bisa mengenakan pajak pada barang barang yang tidak menjadi kebutuhan pokok, misalnya yang bersifat kenikmatan dan kenyamanan ….. misalnya kenakan pajak mobil mewah setinggi2nya, kenakan pajak pada baju bermerek, kenakan PBB yang tinggi pada rumah yang mewah, naikan harga listrik yang signifikan untuk penggunaan rumah diatas 2000 watt, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan bila perlu kenakan pajak untuk sepeda motor namun perbaiki angkutan umum sebagai sarana transport standar dan masih banya lagi yang bisa dilakukan …. karena orang membeli kenyamanan, kenikmatan yang tidak dirasakan orang umum layak membayar dengan harga yang mahal ….. karena dengan PTKP 18 juta pertahun orang berpendapatan 30 juta yang bukan karyawan tidak akan membayar pajak ….. berapa jumalah orang berpendapatan 30 juta pertahun di indonesia munkin jumlahnya lebih banyak dari pada yang jadi karyawan …… masih banyak lagi bila memang pemerintah mau …………………. wassalam

  2. November 10, 2012 pukul 4:27 pm

    Sebelumnya, Saya ucapkan Salam kenal Mas Andhika dan terima kasih meluangkan waktunya untuk membaca artikel saya dan menulis diskusi dalam artikel saya.

    Langsung saja ke pokok bahasan Pajak, saya sangat setuju sekali dengan analogi/contoh dari bapak. Mas andika sudah langsung membahas pajak dalam tataran detail bagaimana implementasi dan mengoptimalkan Pajak, tidak hanya klise bagaimana Pajak Seharusnya dan pelayanan Pajak-tapi bagaimana tata kelola keadilan Pajak.

    saya coba cluster permasalahan, Sebut saja PPH dan istrumen pengukur nilai pajak, tidak di pungkiri bahwa instrument kita ini peninggalan prasejarah kolonial (sudah mendapat gaji kecil masih dipalakin juga) dan sedikit pembaharuan setelah ” Demo menutup jalan Tol bekasi-jakarta”, apa pajak penghasilan dibagi menjadi beberapa cluster diskusi:
    a. siapa wajib pajak?
    b. Formula perhitungan?
    c. Beban Karyawan (kurs, harga kebutuhan pokok, kesehatan,pendidikan)
    d. pemanfaatan Pajak

    dengan transparasi dan dialog berkelanjutan dan penyampaian tataran teknis saya yakin apa yg di harapakan Mas andhika akan tercapai dan tentunya pemerintah bisa mendapatkan sumber devisa yang besar dan mampu beramanah. Amien

    untuk detail cluster2 saya coba tuangkan dalam artikel saya selanjtunya.

    salam Kenal

  3. Maret 20, 2013 pukul 3:31 pm

    Mas Andihka, Ada ulasan baru dalam artikel baru saya tentang Pajak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: