Beranda > Demokrasi Indonesia, Opini Pribadi > Berhala Demokrasi 2.

Berhala Demokrasi 2.


Berhala Demokrasi

Sahabat,

Sudah bosankah kita dengan spanduk-spanduk yang nggak jelas, yang ada di tiap sudut-sudut jalan raya. Sudah bosankah melihat gambar-gambar yang aneh menghiasi di umbul-umbul atau papan reklame. Tak jarang foto-foto nggak jelas terpampang menggunakan kaca mata hitam, pose menunjuk sesuatu, dan arah pandangan yang menghadap/ menjauhi kamera ( teringat pose master of gambler film2 cina tentang dewa judi :):):)  ). Terkadang dari porsi iklan umbul2 foto dirinya hampir 70% dan sisanya ada kalimat atau ajakan tertentu…………….

Gambar-gambar itulah sekarang yang dinamakan media demokrasi melalui alat-alatnya PILGUB, PILPRES, dan PILKADA. wajah bintang-bintang iklan sabun colek 😀🙂 kita terpampang. Namun tak jarang juga yang baik namun hampir lebihnya cuma asal semua….

Demokrasi pada masa sekarang ini bergeser arahnya kedalam sebuah stigma pencitraan atau yang lebih dikenal dengan Politik Pencitraan. Pertanyaannya apa itu pencitraan dan apa kaitannya dengan demokrasi…?

Sejatinya demokrasi bergerak kedalam persaingan kemampuan pemikiran individu dan Pola pemikiran kelompok dalam strategi pemberdayaan Masyarakat sebagai upaya peningkatan kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Dewasa ini sangat jauhlah berbeda. Tokoh-tokoh yang memiliki pemikiran dan strategi di pinggirkan lahirlah tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan finansial yang mampu mampu membeli media untuk perang promosi atau mengiklankan diri jauh lebih populer.

kadang2 selogan anehpun muncul seperti:” Pilah si A orangnya baik, peduli sesama, rendah hati, suka menolong….(rajin menabung, suka mengerjakan PR tidak sombong,egois, apatis, supel dll-tambahan penulis) hahahahha anehkan :):):):)

sehingga lahirlah demokrasi kerdil-kerdil yang berada di masyarakat kita, apa ini lahir karena masyarakat itu sendiri ternyata tidak hal ini terkadang di ciptakan oleh sendiri oleh kandidat-kanditat Calon kita sendiri yang tidak memiliki kemampuan atau produk yang bisa di banggakan.

sehingga demokrasi seperti promosi tukang obat yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan dan Pencitraan diri sebagai berhala yang apuh untuk mengatasi problematika bangsa, sehingga semua rame-rame mencitrakan dirinya dengan cara apapun, kapanpun, dimanapun……tanpa memiliki esensi yang akan di perjuangkan.

Mari interospeksi bersama, merapatkan barisan, berbuatlah sekecil apapun untuk membangun bangsa.

Penulis, 27 Desember 2010

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: