Beranda > Demokrasi Indonesia, Opini Pribadi > Berhala baru “DEMOKRASI”

Berhala baru “DEMOKRASI”


Democracy, sumber: Google

Berhala baru “DEMOKRASI”

Salam pembaca yang budiman. Semoga artikel-artikel penulis menjadi inspirasi bagi pembaca dan penulis untuk menjadi pemahaman bersama dalam membangun bangsa. Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan pembaca untuk membaca artikel penulis.

Reformasi, tak terasa sudah menginjak usia 12 tahun berlalu di depan mata kita. Gegap gempita, duka lara, tangis, marah bahkan kematian menyelimuti bangsa kita dikala itu dan melarirkan istilah yang “booming” pada saat sekarang ini yaitu “Reformasi” dan “Demokrasi”. Dua kalimat ini begitu dasyatnya dan tersebar seantero  Republik Indonesia. Gelombang Demokrasi dan Reformasi selalu hadir di setiap daerah disetiap provinsi  dan instansi pementrintah.

“Negara ini adalah Negara “ Demokrasi” maka kita harus…………”

“Kita harus reformasi…………………….”

Petikan kalimat diatas banyak dan sering diucapkan oleh pemimpin kita dalam Pilkada dalam pelantikan jabatan baru dan ceremony acara-acara kenegaraan lainnya. Demokrasi begitulah kata-kata sakti yang kini beredar dinegara kita. Setiap ada kesempatan pidato, kata sakti ini selalu menyusup dalam lembaran-lembaran naskah.

Demokrasi menjadi Santer di Indonesia dan dunia juga karena imbas dari Negara Paman Sam yang “baru mengenal Demokrasi” dan seolah dia menjadi Negara Demokrasi sekali didunia karena terpilihnya presiden kulit hitam Barrack Obama. Gelora inilah yang menjadikan Demokrasi yang selalu menjadi trend. 

“Nggak gaul loe kalau nggak Demokrasi….ha ha ha ha”  mungkin begitu ya.

Penulis beranggapan jangan jadikan kalimat Demokrasi menjadi Lip gloss atau perona wajah namun ensensi dari Demokrasi itu luntur dan hancur. Apakah bangsa kita baru belajar Demokrasi tentu jawabannya tidak cobak tilik sejarah kita dari jaman kerajaan dan pergerakan menuju kemerdekaan, bagaimana Demokrasi terjadi bagaimana menempatkan Demokrasi dan bagaimana memperjuangkan Demokrasi.

Reformasi dilahirkan pada tahun 1998 bukan karena kita tidak mengenal Pancasila dan Demokrasi melainkan keinginannya untuk merubah tatanan pemahan bangsa Indonesia akan Pancasila dan Demokrasi itu sendiri yang tidak memainkan peran dalam sendi kehidupan dan keberpihakan terhadap birokrasi dan rakyat. Tapi melainkan menjadi alat kekuasan dan tirani dalam kehidupan.

Penulis berharap bahwa semoga apa yang di cita-cita dalam reformasi bisa terwujud yaitu Demokrasi yang di latar belakangi oleh transparansi dan pemahaman akan Pancasila. Penulis tidak ingin Demokrasi menjadi berhala-berhala baru dalam Republik ini sama seperti Pancasila pada waktu itu yang berujung pada kekerasan dan pemaksaan. Mari kita pahami kata-kata tersebut dalam implemetasi di kehidupan bermasyarkat , birokrasi, berbangsa dan Bernegara.

Tangerang, 20 Juni 2010

Penulis

  1. Internet Murah
    Juni 20, 2010 pukul 5:50 pm

    berkunjung antar blog kawan

    thanks untuk sharing ilmunya sangat bermanfaat
    Cara Menghindari penipuan Di Internet
    Ready Stock

  2. Juni 22, 2010 pukul 4:00 pm

    amiiin…
    semoga harapan kita terkabul…
    salam superhangat

  3. Juni 27, 2010 pukul 2:25 pm

    cenya95 :

    amiiin…
    semoga harapan kita terkabul…
    salam superhangat

    terima kasih Pak, Selamat berkunjung di blog saya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: