Beranda > Dunia-Tentang AKU, Idea dan gagasan, Opini Pribadi > Peta Pendidikan Nasional Indonesia.

Peta Pendidikan Nasional Indonesia.


Penulis

Salam Pembaca yang budiman.

Pada ulasan kali ini saya mencoba sharing atau tukar pikiran mengenai pendidikan saat ini dan Pendidikan Nasional kita secara global. Beberapa saat saya membaca surat kabar di ibukota dan media elektronik pada hari ini tingkat kelulusan Sekolah menengah Umum (SMU) mengalami penurunan di belbagai daerah di indonesia. Artikel yang saya  kutip dari sebuah media elektronik mengenai informasi kelulusan SMU tahun 2010:

Dari 1.522.162 peserta ujian nasional tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah, sebanyak 154.079 siswa di antaranya, atau sekitar 10,12 persen tidak lulus. Siswa-siswa tersebut harus mengikuti ujian nasional ulangan yang akan diselenggarakan pada 10-14 Mei 2010……………………………

……………………Dari data hasil ujian nasional tahun 2010, jumlah paling banyak siswa yang tidak lulus dan harus mengikuti ujian nasional ulangan ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (23,7 persen), Kalimantan Tengah (39 persen), Kalimantan Timur (30,53 persen), Nusa Tenggara Timur (52,08 persen), dan Gorontalo (46,22 persen). Adapun persentase siswa yang paling banyak lulus ada di Bali (97,18 persen), Jawa Barat (97,03 persen), Jawa Timur (96,69 persen), dan Sumatera Utara (95,85 persen)…………………………………….read more

(http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/04250288/154.079.siswa.tidak.lulus.un.)

Kalau kita melihat sangatlah tinggi angka ketidak lulusan pada tahun ini dengan angka standard kelulusan yang naik dan mata pelajaran baru yang di ikutkan dalam UN kali menambah daftar factor-faktor penyebab angka kelulusan yang semakin meningkat. Dari ulasan saya kali ini mencoba mengutarakan ide-ide penulis walaupun bukan pakar pendidikan.

Kejujuran Pemerintah dan Pemda akan Pendidikan Nasional

Melihat hasil ketidak lulusan di tiap tiap daerah dan bisa kita pantau bedasarkan provinsi-provinsi di Indonesia. Secara kasat matapun kita melihat bahwa pendidikan di Negara kita tidak merata. Setujukan…?

Ketidak merataan pendidikan nasional di Negara kita di pengaruhi beberapa factor.

  1. Sumberdaya Pengajar dan Kualitas Pengajar
  2. Fasilitas Pengajaran
  3. Buku acuan
  4. Beban pengajaran (Kurikulum)
  5. Standarisasi Lembaga pendidikan

Sumber daya Pengajar dan Kualitas Pengajaran.

Guru sebagai pendidik dalam lingkungan sekolah merupakan tokoh utama dalam membentuk anak didik menjadi sukses dan lulus ujian. Kemerataan guru di daerah merupakan factor utama dalam penyebaran pendidikan di Indonesia. Melalui UN 2010 Pemeritah dan Pemda haruslah jujur bahwa didaerah tertentu jumlah tenaga pengajarnya kurang.

Baru dua tahun ini pemerintah melaui dinas pendidikan memiliki terobosan baru dengan adanya standarisasi/sertifikasi para pengajar. Penulis beranggapan ini hal yang baik dimana Departemen pendidikan melaui dinas pendidikan di daerah bisa memantau sejauh mana penyebaran pengajar-pengajar  bersertifikat dan  bisa menjadi acuan evaluasi pemerintah.

Dan semestinya melalui program ini pemerintah bisa jujur akan kualitas tenaga pendidik di Indonesia dan bertanggung jawab untuk upgrading tenaga pengajar yang ada.

Fasilitas Pengajaran

Sering kita melihat di daerah-daerah yang jauh dari ibukota bahkan pinggiran ibukota dimana fasilitas pendidikan jauh dari layak. Di sini penulis memiliki gagasan dimana adanya standarisasi dari apa yang dikatakan lembaga pendidikan setingkat SMU. Dinas pendidikan nasional haruslah memiliki check list atau standar kriteria sekolah itu dinyatakan layak sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran. Pemantauan sekolah-sekolah SMU untuk negeri dan swasta harus dilakukan secara periode tahunan sebelum periode kelulusan siswa.

Untuk melihat kesiapan sekolah dalam melaksanakan proses lembaga pendidikan dan pengajaran.

Buku acuan

Kualitas bahan pengajaran dalan hal ini buku pengajaran menjadi peran penting dalam menentukan kualitas Ujian nasional. Maksud penulis adalah dengan standard buku pengajaran yang minimal semua peserta/ anak didik mampu melalui standard kelulusan minimum. Penulis beranggapan dengan adanya buku pengajaran yang standard diharapkan sekolah2 kurang mampu yang jauh dari pusat ibu kota mampu bersaing dengan sekolah2 dengan fasiltas mewah dan serba Lux.

Beban Pengajaran (Kurikulum)

Penulis memandang kurikulum yang berubah-ubah seiring kebijakan baru atau pemimpin baru merupakan factor penyebab turunnya mutu pendidikan Indonesia. Coba kita tilik kurikulum untuk anak SMU sekarang, apakah sudah standard atau terlalu berat bebannya bagi siswa atau pelajar?

Bagaimana kurikulum yang ada sekarang dalam kaitannya untuk mendukung UN, apakah sudah ada singkronisasi antara mata pelajaran dengan soal yang di ujikan.

Hal lagi dengan adanya penerimaan di Perguruan Tinggi dipercepat atau seleksi awal sebelum UN apakah ini sudah di evaluasi oleh dinas pendidikan. Karena penulis beranggapan hal ini merupakan salah satu penyebab terpecahnya kosentrasi para siswa dalam kelulusan.

Standarisasi Pengajaran

Sebagai regulator dunia pendidikan Dinas Pendidikan  harus melakukan peran fungsinya sebagai regulator untuk melakukan akreditasi SMU tiap tahunnya untuk mengukur kesipan sekolah dalam menyiapakan Ujian Nasional.

Dari sini juga regulator harus memiliki kewenangan untuk membekukan sekolah dimana secara evaluasi sekolah itu tidak layak dalam proses belajar mengajar. Sekolah yang seluruh anak didiknya tidak lulus perlu menjadi evaluasi oleh dinas pendidikan dan menjadi warning bagi seluruh staff pengajar dan kepala sekolah untuk meningkatkan mutunya kalau tahun depan tidak ada perubahan harus ada keputusan tegas dari regulator untuk  menutup sekolah tersebut.

Secara garis besar dalam gagasan penulis Pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan harus memainkan peran sebagai Regulator dan Development secara penuh dan harus jujur dalam evaluasi UN 2010 ini bagaimana menetapkan target kelulusan dan realistas produk pendidikan saat ini.

Surabaya, 1 May 2010

Penulis

(Mari dukung bangsa ini kalau bukan anda-warga Negara-lalu siapa?)

  1. Wina Dahlan
    Agustus 25, 2010 pukul 6:16 am

    Seharusnya standar nilai kelulusan berdasarkan wilayah kali yahhhh…. Ironis, semakin timur biasanya pendidikan makin ‘kurang’.

  2. Agustus 25, 2010 pukul 8:57 am

    Wina Dahlan :

    Seharusnya standar nilai kelulusan berdasarkan wilayah kali yahhhh…. Ironis, semakin timur biasanya pendidikan makin ‘kurang’.

    Sudah ngerasakan jadi orang timur ya hehehehe

    • Wina Dahlan
      Agustus 27, 2010 pukul 8:46 am

      Not really hehehe
      Semakin sering traveling (apalagi stay untuk beberapa lama), semakin tau lah gimana nature orang-orangnya secara geografis, budaya, dsb. It gives me wider point of view😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: