Beranda > Idea dan gagasan, Opini Pribadi > Kedaulatan Pangan

Kedaulatan Pangan


Penulis

Pembaca yang budiman.

Baru-baru ini gaung kedaulatan pangan mulai di dengung-dengunkan oleh Negara dan bangsa kita dalam rangka mengatasi krisis pangan yang terjadi di dunia. Maraknya import bahan pokok yang kerap sekali kita dengar di media televise dan media cetak  merupakan kebijakan yang pragmatis untuk mengatasi kelangkaan produk dan melambungnya harga.

Mungkin kita bertanya dimana peran agraris dari negeri ini? Negeri agraris kok Import?

Penulis mencoba mengutarakan argumentasi mengenai kedaulatan pangan dan mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan Pokok dari dalam negeri buakan Import. Penulis membagi kedaulatan pangan menjadi 4 bagian sub pendukung untuk menyukseskan kedaulatan pangan yaitu:

  1. Policy
  2. Pendanaan
  3. Modernisasi Pola pikir Pertanian
  4. Penjualan

Dari sini penulis mencoba menguraikan satu persatu dari ide-ide atau gagasan penulis

Kebijakan.

Kebijakan yang dimaksud oleh penulis adalah kebijakan meliputi, Pemetaan wilayah, sector pajak dan pembatasan Import. Dalam konsep kedaulatan pangan menurut penulis harus lah di bentuk pemetaan wilayah di Indonesia bedasarkan sector bahan pokok yang dihasilkan. Sehingga kebutuhannya bisa dipetakan pemetaan wilayah pertanian harus ditunjang dengan kebijakan pendukung yaitu bagaimana pajak bagi daerah yang di tetapkan sebagai daerah lumbung padi-bahan pokok-nasional. Bagaiman sebuah kompesasi yang di dapat karena penetapan wilayah pertanian. Hal ini akan berkaitan dengan keberadaan daerah lumbung itu sendiri.

Suatu contoh: daerah A ditetapkan sebagai lumbung kebutuhan bahan Pokok, Daerah B: sebagai daerah industrilisasi namun dengan luasnya wilayah yang berbeda dan jumlah penduduk yang berbeda. Pajak dari dari kedua daerah tersebut sama….

Coba bayangkan, secara pragmatispun daerah B akan merubah konsep wilayah pertanianya menjadi sector bisnis dimana perputaran uangnya jauh lebih cepat guna membayar pajak. Yang terjadi adalah lahan pertanianpun mejadi sempit digantikan dengan Mall dan Cluster Perumahan yang aspek secara komersial lebih menguntungkan.

Kebijakan export juga diperhatikan, untuk sekarang ini setahu penulis-mohon maaf jika keliru-kebijakan yang diambil adalah export bahan mentah. Secara sikologis kebjakan ini kurang menguntungkan bagi petani dan kreatifitas produk serta harga bahan pokok itu sendiri ujung2nya kembali lagi petani dan konsumen kita yang rugi. Selain itu Kebijakan Import yang di tetapkan oleh departemen perdagangan juga secara tidak langsung akan berdampak pada harga dari produk pertanian.

Modernisasi Pola pikir Pertanian

Modernisasi yang dimaksud dalam hal ini bukan selalu tertuju pada penerapan teknlogi dalam pertanian-Walupun teknologi juga bagian dari modernisasi-melainkan Pola pandang pertanian itu sendiri. Kita mengenal perusahaan-perusahaan agro bisnis dan argo lestari di Indonesia berkembang dengan pesat, pertanyaannya mengapa pertanian kita tidak?…….

Jawabannya adalah bagaimana membentuk Pola pikir pertanian dengan penerapan bisnis dan aplikasi teknologi pendukung. Disinilah peran dnas pertanian daerah memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada petani-petani di daerah. Teknologi tepat guna mungkin yang harus di sosialisasikan dalam kegiatan-kegiatan pertanian.

Pembagian daerah dan waktu musim penanaman serta informasi  cuaca juga saling berkontribusi untuk mengukur stabilitas kebutuhan pokok sehingga tidak membanjir pada musim tertentu dan langka pada suatu musim.

Modernisasi pertanian juga bagaimana meletakkan sebuah daerah dengan pendukung-pendukungnya menjadi sebuah kesatuan industry agro bisnis dari pertanian dalam daerah.

Karena dalam pemikiran penulis apa salahnya membentuk agri bisnis pertanian dilevel sector-sektor yang kecil-koperasi-di daerah2 bukan hanya perusahaan yang besar saja

Pendanaan

Selama ini penulis dan pembaca mengenal istilah tengkulak-sindikat Mafia pertanian-yang ada di daerah-daerah pertanian. Tengkulak hampir menguasai 70% sisi penyediaan modal bagi para petani dan peternak. Coba suatu contoh daerah di jawa timur tengkulak membeli hasil pertanianya di taksir dari tanaman waktu bibit padinya di semai???

Belum adanya konsep Bank secara real yang berperan dalam pendanaan dimana konsep kreditnya tidak conventional seperti pada bank2 umunnya.

Bank yang dimaksud penulis adalah bank yang menguasai bagaimana sector pertanian itu berjalan dan karakter pertanian itu sendiri. Bank Pertanian ini harus tersebar di titik-titik daerah yang di tetapkan menjadi lumbung pangan. Sehingga para petani bisa secara langsung mendapatkan pendanaan untuk sawahnya. Nilai produk yang dihasilkan akan jauh lebih tinggi karena permainan ijon akan berkurang.

Disini peran serta dukungan dari dunia perbangkan atau bagian dari CSR-nya kepada masyarakat.

Penjualan

Pendukung terakhir adalah proses jalur distribusi penjualan dari komoditi-komoditi bahan pokok, tidak dipungkiri banyaknya rantai distribusi maka akan menambah sector biaya produksi itu sendiri. Rangkain distribusi yang panjang menyebabkan melambungnya harga yang nantinya berpengaruh terhadap konsumen.

Dari sini juga peran pendukung kebijakan bisnis untuk perusahaan besar agar tidak bermain sampai ke sector hulu. Coba bayangkan kalau petani atau koperasi-koperasi desa kita harus bersaing dengan raksasa-raksasa agri bisnis  jelas kalah.

Pasar sebagai jalan distribusi kebutuhan dan transaksi bisnis itu sendiri mungkin bisa dikelompokkan tentang siapa yang boleh masuk dan boleh menjalankan sehingga pasar menjadi rujukan dari Pasar-pasar modern-Supermarket-bukan menjadi pesaing diantara pesaing.

Begitulan menurut ide serta gagasan penulis, Pendanaan bukanlah satu-satunya solusi dan isu kekurangan dana yang selama ini digembor-gemborkan dalam sebuah pengembangan atau improvementbukanlah yang utama tapi keberpihakan dalam kebjakan pertanian itu sendiri adalah yang paling utama dilanjutkan aspek-aspek yang lain.

April 3, 2010

Salam Penulis

(Mari bersama-sama memajukan bangsa melalui apapun, sekecil apapun)



  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: