Beranda > Dunia-Tentang AKU > Cinta Bermunajat Menggapai Frequensi Kesabaran

Cinta Bermunajat Menggapai Frequensi Kesabaran


Kenduri Cinta edisi bulan Maret 2010

Penulis

Salam hormat pembaca yang setia.

Siapa yang tidak pernah mendengar kata “Cinta”? Kata yang selalu kita dengung-dengunkan di setiap percakapan sehari bahkan di media Televesi dalam Sinetron Industrilisasi Cinta dan Kekerasan serta Sinema Indonesia. Tapi kali ini penulis tidak mendiskusikan tentang sinetron itu sendiri melainkan tentang Cinta dan Kesabaran.

Dua minggu yang lalu, Penulis hadir dalam sebuah majelis Komunikasi “Kenduri Cinta”. Ajang dimana kita dingatkan kembali kebesaran bangsa Indonesia sebagai modal dasar atau Pondasi  inspirasi kita sebagai warga Negara akan arti pentingnya jati diri bangsa Indonesia melalui  peninggalan sejarah dan ke-Indonesian kita sebgai warga negara.

kenduri cinta

Awalnya penulis tidak memiliki keinginan untuk menghadiri forum dikarenakan takut dan beban moral . Nggak tahu mengapa? Rasa itu selalu ada dan hingap di hati Penulis. Dasar penulis yang aneh Namun rasa itu hilang bersamaan dengan suara knalpot motor.  Pukul 21.00 wib, Penulis melihat di jam tangan teman. Akhir malam itu diputuskan untuk berangkat bersama teman-teman .

Seperti biasa dalam acara kenduri cinta, Para penonton dan pedagang kaki lima berkoordinasi memenuhi pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan komposisi 4-4-2.  Pelataran parker dan hanya di balut terpal kusam serta Koran-koran bekas. Dari forum ini semua tidak mengetahui bahwa key note speaker-Cak Nun-akan hadir dalam forum hari ini.

Tapi seperti biasa tanpa Cak Nun antusias forum sangat tinggi.

Fruquensi Kesabaran

Cerita mengenai topic dari pembicaraan dalam majelis ini adalah “ fruquensi kesabaran”. Bagaimana kesabaran itu lahir dan seberapa sering kesabaran itu muncul dalam diri kita.

Pada saat sekarang ini Indonesia mengalami ledakan informasi yang begitu dasyat. Ledakan informasi karena adanya fasiltas informasi yang begitu cepat dan akurat serta non-stop. Media-media electronics dan cetak sebagai media transfer informasi kepada masyarakat sedikit banyak menjadikan pola pikir budaya cepat dalam masyarakat dan tak jarang hal ini mengkikis  kesabaran kita.

Apakah derasnya informasi itu keliru, jawabannya tentu tidak.  Namun mau tidak mau pola budaya singkat dan cepat sudah menjadi trendcentre dalam masyarakat kita- termasuk penulis-sekarang ini. Sadar atau tidak sadar akan menggerus sisi-sisi kesabaran dalam diri kita.

CInta dalam pandangan majelis ini adalah pupuk dari kesabaran itu sendiri, dimana sisi-sisi cinta akan melahirkan sebuah getaran-getaran. Akumulasi dari getaran-getaran dalam sebuah ukuran waktu maka lahirah frequensi. Frequensi yang terbentuk adalah frequensi kesabaran dan tolerasi untuk menerima sebuah problemmatika tapi tidak pasrah. frequensi ini melahirkan sebuah empati serta tindakan nyata

Dalam majelis ini juga tidak munafik menyatakan bahwa masyarakat kita pada titik kritis ini karena banyaknya kasus kasus social di media televisi dan media cetak. Kasus social, kejahatan, penyelewengan wewenang dan lain sebagainya dan seperti biasanya berlalu tanpa ada penyelesaian.

Disinilah peran Cinta dan disinilah perannya duduk bersama berlandaskan kecintaan kita akan bangsa Indonesia. Seberapakah anda mengenal Cinta kepada Indonesia………………

Secarik kertas nya masih tertinggal (bersambung)

Penulis

  1. Maret 29, 2010 pukul 5:27 pm

    bagus, semoga semua bisa meleburkan ego dan meiningkatkan sabar
    mari berkunjung ke tempat saya lokasi di http://japancamp.wordpress.com/
    salam..
    dan jangan pergi sebelum meninggalkan jejak, yang lain bisa tersesat🙂

  2. Maret 30, 2010 pukul 4:03 am

    Terima kasih Mas.
    Salam kenal dari saya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: