Beranda > Opini Pribadi > Pesantren dan sumbangsih perannya pada pendidikan di Indonesia.

Pesantren dan sumbangsih perannya pada pendidikan di Indonesia.


Penulis

Bicara mengenai pesantren sebagian kalangan masyarakat modern menggangap pola pendidikan ini sangat kuno dan tidak mengakomodir perkembangan zaman-Jangankan Masyarakat modern penulis sendiri juga beranggapan demikian. Ironis ya…..(anggapan yang salah)

Namun dalam tulisan saya kali ini penulis coba melihat peran pondok pesantren dalam sisi kebinekaan atau keberagaman pendidikan di kalangan masyarakat dalam upaya mendukung pendidikan nasional itu sendiri yang mungkin kini Penulis sebagai generasi muda kurang mengetahui.

Pendidikan di Indonesia sangatlah beragam, hal ini dikarenakan beberapa aspek diantaranya:Geografis, culture suatu daerah dan Tingkat kemampuan masyrakat.

Tidak dipungkiri bahwa Negara Indonesia adalah kepulauan banyak gunung dan laut menyebabkan transfer informasi dan fasilitas terkendala dan memiliki problematika tersendiri. Sehingga rangkaian distribusi pemerataan fasilitas pendukungpun tidak merata. Adat istiadat suatu daerah juga memerankan peran penting dalam transformasi penddikan dikalangan masyarakat sebuah daerah dalam hal ini contohnya pemisahan gender dan golongan(kasta)/ tingkatan sosial di masyarakat.

Pesantren Tebu Ireng

Problem pendidikan ini di zaman kolonial Belanda menjadi sebuah dilema pendidikan sehingga lahirlah adu domba dalam dunia pendidikan dan memunculkan selogan-selogan: golongan ningrat, golongan merah dan golongan hijau dimana pendidikan dimasyarakat Indonesia tidak merata dan dikondisikan oleh penjajah Belanda sebagai konflik-konflik sosial sendiri dimasyarakat. Coba bayangkan untuk menjadi murid di sekolah colonial kita harus menjadi golongan ningrat atau masyarakat biasa yang memiki uang banyak namun kalau kita menjadi murid pesantren kita hanya mengeluarkan 1 liter beras atau 1 ekor ayam,1 ekor kambing tergantung kemampuan murid atau bahkan tidak sama sekali.

Pesantren adalah di golongkan oleh kolonialisme sebagai golongan hijau yang dianggap golongan terbelakang karena secara instrumen pendidikan sendiri Pesantren tidak layak di sebut sebagai Lembaga pendidikan. Pesantren lebih dikenal sebagai tempat kumpul-rumah singgah kalau di zaman sekarang ini-bagi kalangan masyarakat bawah. Namun dengan karakteristik inilah

Pesantren memiliki instrument yang utama yaitu Penokohan seorang Kiai atau guru, karena tokoh ini-sebut saja Kiai-memainkan peran tokoh selain di lingkungan pesantren juga masyarakat disekitarnya. Sehingga secara social education ternyata Pesantren memainkan peran gandanya didalam pendidikan  dan masyarakat.

Sehingga kalau kita membuka lembar-lembar usang sejarah perjuangan Bangsa Indonesia banyak tokoh pesantren yang menjadi instrument pemerkuat dan motor persatuan dan perjuangan untuk merebutkan kemerdekaan. (lihat artikel sebelumnya).

Dewasa ini pendidikan Indonesia berkembang seiiring dengan kemajuan teknologi dan arus transformasi informasi yang sangat cepat. Kendala-kendala geografis sedit demi sedikit mulai teratasi. Apakah pesantren tidak layak lagi karena kendala-kendala yang di ungkapkan penulis sudah teratasi?

Jawabanya tentu tidak, Instrumen pendidikan ini diharapkan bersama bisa bertranformasi menjadi instrument pendidikan yang lebih menambah cakrawala dunia dan tetap mempertahankan aspek sosial di masyarakat. Namun tetap ada instrument pendidikan seperti ini yang bisa menjangkau kepelosok-pelosok daerah sehingga keadilan Pendidikan itu sendiri bisa diraih.

Itu butuh peran kita bersama. Amien

(Mari Bersama-sama membangun bangsa)

Cengkareng, 8 Maret 2010

  1. Maret 8, 2010 pukul 4:44 pm

    sebagai negara muslim terbesar di dunia indonesia dirasa perlu untuk mengembangkan sekolah2 keislaman

  2. Maret 9, 2010 pukul 4:20 am

    sekolah ke islaman atau lebih cocok saya menyebutkannya sebagai sekolah keagamaan memang di perlukan di setiap negara tanpa memandang eksistensi agama dominan maupun non dominan. Di sini saya memandang ruang belajar non-formal yang dihadirkan oleh lembaga non-institusi merupakan upaya tokoh masyarakat untuk meningkatkan pendidikan secara menyeluruh dan dihadirkan ke tengah-tengah masyarakat sebagai jembatan untuk mencapai pendidikan nasional itu sendiri.

    keberadaan pesantren itu sendiri sebetulnya lahir dalam upaya mendukung masyarakat yang secara ekonomi dan moral kurang terjangkau dari pendidikan formal.

    Salam kenal Mas AJI,terima kasih telah berkunjung.

  3. hary
    Februari 25, 2011 pukul 6:21 pm

    saya alumni pondok pesantren salafiya safi”iyah sukorejo-asembagus-situbondo[tahun 1988]waktu itu hadrutussyeh kh.as”ad samsul arifin masih ada[hidup].Beliau juga perna nyantri sama hadrotusyeh kh hasyim ashri[sumber majalah tebu ireng edisi pertama]intinya;saya sangat setuju dgn pendapat anda. PENDAPAT SAYA;SAYA SANGAT SETUJU LAGI KALAU PENDIDIKAN AKHLAK DIJADIKAN MATA PELAJARAN DI SEKOLAH UMUM.

  4. Februari 27, 2011 pukul 2:45 pm

    Salam Kenal Mas Hary,
    Terima kasih ats kunjungannya ke Blog saya, Kalau Mas hary punya blog boleh di share juga supaya bisa saling silahturohmi.

    Saya panggil apa ya…Pak UStad atau Mas ya, lah wong jebolan Ponpes🙂
    Terima kasih ats Pendapatnya mengenai artikel saya. Untuk pendidikan ahklaq seperti apa ya Mas kalau boleh sharing, karena waktu saya dulu adanya pendidikan formal PMP dan agama saja.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: