Beranda > Demokrasi Indonesia, Opini Pribadi > Pendekatan pragmatis mengesampingkan persuasif dan Humanis.

Pendekatan pragmatis mengesampingkan persuasif dan Humanis.


Penulis

………………………………………………………

………………………………………………………

Bangunlah jiwanya

Bangunlah raganya untuk Indonesia Raya

……………………………………………………… (Kutipan sebuah Lagu Kebangsaan)

Lirik lagu ini mungkin tidak awam bagi kita sebagai Warga Negara  Indonesia dan Bangsa Indonesia. Penulis tidak menggugat eksistensi keberadaan dari lagu ini namun lebih menekankan implementasi pemaknaan sehari-hari tentang bagaimana membangun karakter tata cara kehidupan masyarakat Indonesia yang mulai pudar.

Dalam pengambilan keputusan dalam tatanan masyarakat banyak kita jumpai  sekarang Perda-perda di tingkat kabupaten, kota atau propinsi  yang selalu dikeluarkan dan di terbitkan untuk mengatasi masalah social yang ada atau sekedar menekan pertumbuhannya.

Sejenak kita lihat dan mungkin kita kritisi lamanya perda tersebut di patuhi atau di amalkan oleh masyarakat paling Cuma 3 bulan atau bahkan satu minggu. Tak jarang perda-perda ini menjadi sampah hiasan dinding-dinding atau baliho yang ada dijalan raya.

Sekarang kita bertanya:

apakah perda bisa mengatasi masalah social yang ada tentu jawabanya tidak!

Terus kenapa perda keluar…..?

Kita mungkin beranggapan bahwa perda keluar hanya karena pemimpin kita tidak mengetahui pokok masalah yang ada di masyarakat atau mengambil jalan singkat secara temporary yang sebetulnya mereka tahu bahwa problem solving ini kurang effective dan menimbulkan dampak yang lain lagi.

Terus kita bertanya dimana sisi humanis dimana pendekatan secara nurani yang melahirkan sikap kepatuhan dalam diri masyarakat seperti norma-norma yang berlaku dimasyarakat tumbuh dan berkembang di Insan-insan Bangsa Indonesia. (terlalu tinggi memang menjadi masyarakat Madani)

Atau mungkin cara ini tidak ngetrend karena secara promosi dan sisi publisitas kurang begitu tersorot di media TV atau media cetak. Sehingga enggan bahkan di tinggalkan karena pemimpin ingin dirinya bagai artis yang menghiasi panggung-panggung rakyat-rakyatnya. (saya berharap dan berdoa agar ini hanya ada di pemikiran saya saja).

Tapi itulah tantangan yang di jawab oleh pengambil keputusan di Negara ini Bagaimana mengkombinasikan sisi humanis dan persuasive suatu peraturan tanpa menghilangkan esensi dari peraturan yang dibuat.

Cengkareng, 8 Feb 2010

  1. Maret 25, 2010 pukul 2:51 pm

    setuju….
    karakter bangsa perlu dibangun
    mulai dari kita sendiri dan berdampak ke sekitar

    salam

  2. Maret 26, 2010 pukul 2:23 am

    Salam Kenal Mas.
    Terima kasih telah berkunjung di Lapak suara saya.

    Salam,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: