Beranda > Dunia-Tentang AKU > Kenduri Cinta = Memunajatkan cinta = Meraih Cinta

Kenduri Cinta = Memunajatkan cinta = Meraih Cinta


kenduri cinta

kenduri cinta

Penulis: Handono

Salam cinta, Anehkan biasanya penulis selalu memulai sebuah artikel dengan “salam pembaca yang budiman”. Khusus artikel saya ini salam cinta.

Genap sudah 20 hari ibadah puasa yang telah saya jalani dan syukur masih diberi kesempatan dan kekuatan oleh pencipta. Baru saja saya melakukan buka puasa bersama dengan rekan-rekan kantor di salah satu rumah teman. Acara berjalan lancar dan meriah walaupun persiapan sederhana. Sepulang buka puasa bersama kira2 jam delapan malam salah satu teman ku yang lain mengajaku dalam suatu pengajian salah satu tokoh masyarakat yang terkenal di kalangan masyarakat jawa timur atau di nasional Indonesia.

Malam itu langsung bergegas menyiapkan motor legendaku langsung tancap gas bertiga dengan teman2 yang lain menuju Taman Ismail Marzuki di daerah Jakarta maklum walaupun 2 tahun di Jakarta aku masih belum tau jalan akhirnya nyampai juga ternyata pengajian sudah berlangsung lama diadakan di Jakarta ini dengan komunitas lumayan banyak atau bahkan seluruh lapisan masyarakat yang ada di Jakarta atau yang mau meluangkan waktunya untuk duduk di terpal lusuh bahkan ada yang pakai Koran sebagai alas dan tenda 1 strip yang paling jelek menurutku (ref. pengalaman mengadakan acara-acara semasa kuliah dulu) dan kalau nggak kebagian tendanya langit. Sebutulnya saya tidak suka mengatakan itu sebagai komunitas karena kenyatannya di ruang tersebut tidak ada keterikatan tidak ada persyaratan hanya ada satu pemahaman kebersaman menerima ilmu dan berbagi ilmu satu sama lain.

Menakjubkan  

Pengalaman pertama mengkaji dari apa yang di sampaikan dalam majelis ini sangat terbuka mengkritisi paradigma pragmatis yang di keluarkan oleh para pembuat kebijakan dan perumus kebijakan. Sangat ringan tapi makna yang terkandung cukup tinggi bobotnya. Sepintas memandang orang-orang yang hadir disini memancarkan mata2 penu harap akan kedatangan tokoh atau Pembina atau yang di jadikan motor penggerak dalam majelis ini. Salah satu yang menarik dalam majelis ini adalah antusias peserta dengan di selingi tawaran oleh pedagang-pedagang kopi, susu, pop mie dan kacang rebus mengingatkan saya di malam-malam kota Surabaya.

Angin malam mulai menunjukkan keindahan serta kekuatan pada tubuh yang tidak berjaket, dan saat itu pula pembicara majelis kenduri cinta menampakkan dirinya. Cak Nun ditemani orang-orang pengisi acara yaitu dik doang (dengan kandang jurangnya heheheh….), anggota DPR dari papua (2 org), musisi tanah abang dan pengisi lain yang saya nggak tahu namanya. Jangan anda bayangkan majelis ini semua nya memakai baju putih-putih dan berkalung surban semua ternyata tidak, mereka memakai baju kesahajaan dengan ciri khasnya masing2. Topik majelis terbut adalah Fitrah nasional dan Indonesia memandang sejarahnya (seperti artikel saya “sejarah part 2”) atau saya senang menyebut renaissance Indonesia.

 Dalam materi ini menerangkan kita bagaimana kita memandang indonesa secara budaya, seni, moral karena Indonesia terbentuk karena persamaan budaya yang melebur menjadi sebuah keinginan akan sebuah bangsa yang menerima butiran-butiran asimilasi dari produk2 kreasi pemikiran masyarakatnya.

Fitrah Nasional

Dalam pengejawahan dari Cak Nun bagaimana kita memposisikan kita sebagai warga Negara dan warga negara yang diberi amanah pembuat kebijakan. Dan bagaimana kedua nya berasimilasi kedalam sebuah butir tunggal dari penyatuan nutrisi-nutrisi pemikiran, cinta, budaya, apresiasi, kekeluargaan, perbedaan. Dalam ulasan Cak Nun tentang istilah Butir dan Tepung, saya coba mengulasnya bedasarkan tafsiran

pemikiran saya yang saya coba pahami dari buku Gus Mus-satu rumah seribu pintu tentang pemahaman wasilah dan ghayah.

Tepung: adalah sebuah pemahaman bahwa kita sebagai insan indonesia memiliki pemahaman seperti serbuk tepung dimana kita adalah nutrisi-nutrisi pemberi manfaat, nutrisi-nutrisi pemikiran, idea. Atau bentuk lain dan kita mampu menyatu dengan yang lain.

Butir: adalah kumpulan yang mengatas namakan sebuah komunitas dan menganggap eksistensi sebuah komunitas adalah kekuatan, kekuatan yang bisa menjadikan status social atau kekuatan untuk meng-esklusifkan diri dari yang lain. Parahnya butir kadang memiliki pandangan-padangan dengan ruang yang sempit. Cak Nun: Parpol saat ini itu apakah butir atau tepung? Cak Nun: jabatan menteri itu apakah butir atau tepung? Jawablah sendiri pembaca yang budiman tentang pertanyaan ini…….

Bersambung…….

Cengkareng, 13 Sep 2009 (penulis)

 

                                                                                                                                         

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: