Beranda > Opini Pribadi > Petani Kuli

Petani Kuli


Pembaca yang budiman salam kenal selalu. Kali ini saya akan mengutarakan perihal kehidupan petani kita dalam kondisi saat ini. Pernahkah kita jeli melihat terhadap profesi petani yang banyak sekali berperan dalam perekonomian kita. Petani kita selau bersinergi dengan alam. Sukses atau gagal panennya tergantung dengan alam. Kehidupan aktivitasnya dimulai dari pagi hingga petang. Disitulah roda-roda pertanian berjalan.

Petani kuli yang dimaksud oleh penulis adalah petani yang tidak memiliki lahan sawah atau ladangnya sendiri. Mereka menggantungkan hidupnya sebagai buruh atau kuli di ladang-ladang orang lain. Mereka dibayar setiapkali tenaga yang disewanya. Bahkan kalau dia punya modal dia bisa menyewa sawah orang lain untuk dikerjakannya setiap kali musim hujan. Mungkin kita bertanya berapa jumlah petani indonesia yang memiliki lahan sendiri?

tani 

Mungkin pembaca bisa menjawab sendiri. Dengan mengharapakan akan rezeki dari alam dan tidak diperkuatnya penopang serta penunjang pertanian sering kali banyak kita jumpai petani-petani kita jatuh dalam cengraman Mafia bertopi dan tak jarang mereka selalu menghisap keringat setetes demi tetes yang keluar dari Petani. Keputus asaan akhirnya mereka menjual sawahnya kepada orang lain dan dia menjadi kuli di lahannya sendiri.

Hasil dari sawah yang ia kerjakan mungkin tidak seberapa karena terpotong dengan sewa tanah, pupuk, insektisida dan kadang mereka dirugikan akibat sepekulan-sepekulan yang menyebabkan harga gabah yang merosot.

Mungkin kita bertanya?

  1. Kapan petani kita memiliki lahan sendiri.
  2. Kapan aspek-aspek penunjang pertanian bisa mendukung petani.
  3. Adakah sistem tata kelola pertanian untuk mewujudkan visi yang kedepan, tidak hanya orientasi pada sewa sembada pangan yang hanya sekedar hegemoni-hegemoni statistik karangan Pengelola negara.

Pertanyaan ini mungkin hanya sedikit “kilatan pemikiran” dari penulis sebagai bahan diskusi dan evaluasi kita bersama sebagai warga negara melihat kondisi realita di masyarakat kita. Bukan untuk mendramatisasi tetapi kita cari solusinya.

Jakarta,01 Maret 2009

Handono

 

Kategori:Opini Pribadi
  1. April 23, 2009 pukul 7:05 pm

    Reformasi agragria selama ini hanyalah wacana dalam kampanye.
    Namun, kita jangan menunggu politisi bekerja, lebih baik kita berusaha seraya :
    – memberi masukan sekaligus ikut serta dengan orang yang peduli untuk mendirikan organisasi dan sistem pemasaran produk pertanian sehingga margin usaha petani dapat ditingkatkan.
    – penyuluhan masyarakat mengenai alih teknologi dan penggunaan bibit unggul.
    – Pemerintah Daerah harus berusaha menfasilitiasi modal para petani, jangan sampai petani jatuh ditangan tengkulak atau rentenir.
    – Reformasi kepemelikan lahan yang adil. Bagi hasil antara tuan tanah dan buruh tani harus dibuat adil minimal 60 petani : 40 tuan tanah.
    – Merubah stereotife sejak dini (TK dan SD) bahwa petani bukan pekerjaan rendahan (ini harus diwujudkan melewati mensejahterakan petani).
    Trims.

  2. Mei 3, 2009 pukul 7:10 am

    terimakasih komemnya.
    saya setuju Mas.
    kita memang tidak tinggal diam tapi harus juga ikut berperan.

    untuk bagi hasil 60:40 bagus juga tapi kenyataan di lapangan biaya penanaman di tanggung oleh petani penggarap. kalau hasil panen bagus oke lah…….kalau gagal?

    ada nggak pembaggian lahan-lahan pertanian buat petani indonesia ( ref. sejarah mohon maaf lahan pertanian kita adalah warisan jaman sosialis dulu……)

  3. anungrey2008@yahoo.co.id
    Juli 27, 2009 pukul 3:04 am

    Perlu juga dikritisi, bagaimana dengan teknologi dalam budidaya pertanian ini, apakah sudah memadai ? Survey saya pada beberapa kelompok tani, sangat sulit untuk mau mencoba teknik budidaya padi yang sudah masuk ke negeri ini. (ini contoh utk komoditi padi saja loh). Saat ini teknik budidaya padi yang cukup baik adalah SRI (system of rice intensification).

    Salah satu yang juga perlu dipertimbangkan adalah , MASUKnya KITA secara Langsung terjun ON FARM.

    Salam dan tetap semangat/anung

    • September 24, 2009 pukul 10:56 pm

      salam kenal juga mas anungrey.
      Terima kasih atas informasinya..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: