Opini Penulis: Dono
Kedua alat transportasi di atas merupakan transportasi popular di Indonesia. Pada waktu era 6o-an Kereta Api merupakan alat transportasi yang paling popular di negeri kita. Pada tahun 2000 masa kepopuleran itu diganti dengan Pesawat Terbang. Era transportasi udara mulai menggeliat dengan di berlakukannya keterbukaan pada kedirgantaraan Indonesia yang dulu masih dimonopoli oleh maskapai nasional Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara. Sekarang bermunculan nama-nama baru yang berkompetisi di dunia penerbangan komersial di Indonesia sebut saja Maskapai Adam Air, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Air, Mandala Airlines dll. Dengan adanya kompetisi dalam pelayanan membuat masyarakat Indonesia memiliki alternative dalam menentukan perjalanannya diwaktu liburan.
Banyak peristiwa kecelakaan yang menghiasi layar kaca untuk kedua alat transportasi ini. Sebut saja tergulingnya Kereta Api di daerah Jawa Tengah karena anjloknya rel Kereta Api, tabrakan dll. Kecelakaan di dunia penerbangan juga banyak di jumpai diantaranya penerbangan PT. Garuda Indonesia di sungai bengawan Solo dan terbakarnya Pesawat Terbang di Jogjakarta. Pada akhir-akhir ini intensitas kecelakaan di Udara lebih besar dialami oleh beberapa Airline, contoh Lion Air jatuhnya tutup Engine di landasan Soekarno Hatta, Jatuhnya bagian sayap di rumah penduduk,dll. Maskapai Adam Air: tengelam di perairan Sulawesi, patah badan Pesawat Terbang di Surabaya, keluar landasan di NTT, dan yang terakhir kasus di BATAM begitu pula untuk maskapai Mandala Airlines, Batavia Air dan Sriwijaya Air. Bahkan untuk saat ini salah satu Maskapai Nasional Indonesia Adam Air ditutup operasinya. Mungkin yang jadi pertanyaan “Kemana penumpang/pelanggan Adam Air berpindah?” mungkin diantara mereka akan berpindah ke penerbangan yang lain atau bahkan untuk perjalanan yang bias ditempuh lewat darat mereka menggunakan Kereta Api.
Terbukti liburan kali ini penumpang Kereta Api mengalami kenaikan 30% hingga PT KAI Indonesia menambah jumlah gerbong untuk rute-rute keberangkatan Kereta Api. Dan bahkan lebih ekstrim PT KAI memberlakukan tiket berdiri untuk para penumpang dengan harga yang tidak jauh beda dengan tiket duduk. Ketidak aturan ini lebih panjang dengan ditambahi dengan pemberian tiket berdiri melampai batas oleh oknum tertentu sehingga dalam gerbong menjadi banyak hingga tidak ada perbedaan Pelayanan pemberlakuan tiket Esekutif, Bisnis, dan Ekonomi ujung-ujungnya konsumen Kereta Api menjadi tidak nyaman dengan pelayanan jasa Kereta Api. Lagi-lagi masyarakat menjadi korban dari pemberlakuan ketidak tertiban dari pelayanan transportasi Indonesia. Padahal banyak sekali masyarakat Indonesia yang menggunakan jasa transportasi Kereta Api karena transportasi ini memiliki ciri khas tersendiri dimana interaksi Penumpang masih kita temui.
Perbaikan pelayanan Kereta Api perlu dilakukan karena Kereta Api bukan Alat transpotasi Subtitusi atau alat transportasi cadangan jika salah satu alat transportasi tidak beroperasi. Kereta Api memiliki pelanggan tertentu yang setia menggunakan jasanya. Hal ini akan memberikan dukungan finansial kepada PT. KAI untuk beroperai dan meningkatkan kualitas pelayanannya.

10 comments
Comments feed for this article
Desember 31, 2008 pada 6:32 am
gudangmekanik
negara ini mana yg tdk mgkn :
pesawat byk yg jatuh
kereta byk yg anjlok
bis/mobil/motor byk yg tabrakan
jalan kaki aja…
he..he..he..
April 6, 2009 pada 9:44 am
jiwamalam
terima kasih
Juni 11, 2009 pada 2:56 pm
ernawati
sebenarnya ada apa sich di negara tercinta ini sehingga banyak sekali musibah??
Juni 29, 2009 pada 2:17 am
jiwamalam
wah…bangsa ini nggak ada apa2 kok Mbak Ernawati.
yang ada apa-apanya adalah sistem maintenance dan manajemen kontrol antara regulator dan pelaksana usaha yang nggak pernah singkron.
Salam kenal buat kamu, mohon kalau bisa tinggalkan alamat sehingga saya bisa berkunjung di situs anda…dan berbagi idea dan opini
Terima kasih
Agustus 3, 2009 pada 5:58 am
lawliet90
takdir…….
Agustus 28, 2009 pada 7:46 am
jiwamalam
hahahaaa……
itu adalah jawaban yang paling disukai oleh marketing dr perusahaan mas lawliet. jadi nggak susah memperbaruhi image perusahaan.
salam kenal.
September 1, 2009 pada 2:25 am
albert
lebih baik ngk usah kemana-mana, naikin bini khan lebih uenaaak…..toh !
September 4, 2009 pada 12:37 pm
larroz
wah …mudik tahun ini saya naik dua2 nya. setelah pesawat citilink kemudian disambung kereta mutiara timur. ya mudah2 lancar tidak ada halangan …amin.
September 10, 2009 pada 7:49 am
jiwamalam
Selamat mudik Mas larroz, semoga lancar sampai tujuan.
doa aja mas.
salam kenal
September 15, 2009 pada 1:58 pm
indra
sama aku juga naik pesawat dulu lalu naik kereta api mutiara timur ke jember