………………………………………………………

………………………………………………………

Bangunlah jiwanya

Bangunlah raganya untuk Indonesia Raya

……………………………………………………… (Kutipan sebuah Lagu Kebangsaan)

Lirik lagu ini mungkin tidak awam bagi kita sebagai Warga Negara  Indonesia dan Bangsa Indonesia. Penulis tidak menggugat eksistensi keberadaan dari lagu ini namun lebih menekankan implementasi pemaknaan sehari-hari tentang bagaimana membangun karakter tata cara kehidupan masyarakat Indonesia yang mulai pudar.

Dalam pengambilan keputusan dalam tatanan masyarakat banyak kita jumpai  sekarang Perda-perda di tingkat kabupaten, kota atau propinsi  yang selalu dikeluarkan dan di terbitkan untuk mengatasi masalah social yang ada atau sekedar menekan pertumbuhannya.

Sejenak kita lihat dan mungkin kita kritisi lamanya perda tersebut di patuhi atau di amalkan oleh masyarakat paling Cuma 3 bulan atau bahkan satu minggu. Tak jarang perda-perda ini menjadi sampah hiasan dinding-dinding atau baliho yang ada dijalan raya.

Sekarang kita bertanya:

apakah perda bisa mengatasi masalah social yang ada tentu jawabanya tidak!

Terus kenapa perda keluar…..?

Kita mungkin beranggapan bahwa perda keluar hanya karena pemimpin kita tidak mengetahui pokok masalah yang ada di masyarakat atau mengambil jalan singkat secara temporary yang sebetulnya mereka tahu bahwa problem solving ini kurang effective dan menimbulkan dampak yang lain lagi.

Terus kita bertanya dimana sisi humanis dimana pendekatan secara nurani yang melahirkan sikap kepatuhan dalam diri masyarakat seperti norma-norma yang berlaku dimasyarakat tumbuh dan berkembang di Insan-insan Bangsa Indonesia. (terlalu tinggi memang menjadi masyarakat Madani)

Atau mungkin cara ini tidak ngetrend karena secara promosi dan sisi publisitas kurang begitu tersorot di media TV atau media cetak. Sehingga enggan bahkan di tinggalkan karena pemimpin ingin dirinya bagai artis yang menghiasi panggung-panggung rakyat-rakyatnya. (saya berharap dan berdoa agar ini hanya ada di pemikiran saya saja).

Tapi itulah tantangan yang di jawab oleh pengambil keputusan di Negara ini Bagaimana mengkombinasikan sisi humanis dan persuasive suatu peraturan tanpa menghilangkan esensi dari peraturan yang dibuat.

Cengkareng, 8 Feb 2010

Siapa yang tidak  mengenal maskapai nasional Garuda Indonesia, track recordnya Garuda Indonesia mengalami Pasang surut dari kejayaan airline terbesar se Asia Tenggara hingga mengalami keterpurukan pada tahun 1998 hingga ada larangan terbang yang diterbitkan oleh salah satu negara Uni Eropa. Garuda Indonesia mulai bangkit dengan terpenuhinya oleh IOSA standard dan baru2 ini Garuda Indonesia naik peringkat menjadi 4 STAR AIRLINES:. Semoga trend ini terus berlanjut dan di ikuti oleh operator2 domestik di Indonesia sehingga pelayanan kepada konsumen semakin membaik….

berikut ini cuplikan beritanya:

GARUDA INDONESIA IS OFFICIALLY CERTIFIED AS A 4-STAR AIRLINE IN THE LATEST SKYTRAX AIRLINE RANKING REVIEW FOR 2010

LONDON, UK – 29th December 2009

SKYTRAX Research today confirmed that Garuda Indonesia has been Certified as a world 4-Star Airline for the 2010 ranking period.

Commenting on the 4-Star Certification for Garuda Indonesia, Edward Plaisted (Skytrax CEO) said …. “this 4-Star Airline Certification is a coveted seal Quality Approval that an airline receives in recognition of its front-line Product and Service quality. Garuda Indonesia has undergone a major quality transformation and improvement during the past year, across both their product and front-line service standards. New aircraft with a high-end product are now joining their fleet, and the retrofitting of their A330-300 aircraft was the catalyst that really enabled us to upgrade their rating level to a 4-Star airline status.”

Garuda Indonesia is now one of just 27 airlines worldwide that currently meet the rigorous quality criteria which Skytrax set for this 4-Star airline ranking.

  The official 4-Star airlines ranking is due recognition for those airlines providing a good standard of Product across all travel categories, combining with a good standard of Staff Service delivery.

The airline Star ranking assesses Quality levels across both the Onboard and Airport environments – for Garuda Indonesia the airport ranking reflects their home base of Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta.

 

“This is an outstanding achievement for Garuda Indonesia, and they have demonstrated real commitment to achieving Quality improvement across their customer facing product items and staff service. The airline has adopted the marketing slogan of the new “Garuda Indonesia Experience”, based around warm Indonesian Hospitality with quality service that emphasises safety and comfort, and this is certainly something that we now see being delivered to Garuda Indonesia customers” added Mr Plaisted.

(sumber:skytrax)

Liburan…..

Pernahkah kita memperhatikan transportasi yang anda gunakan di setiap perjalanan anda?. Pada artikel saya kali ini saya akan menjelaskan tentang spesifikasi dari transportasi udara yaitu pesawat Boeing 737-200.

pesawat B737-200 diproduksi pada tahun 8 August 1967, dengan kapasitas : (737-200) 95 in two classes, 124 in one-class. Pesawat ini merupak pesawat narrow body atau pesawat jenis berbadan kecil. pesawat ini dilengkapi dengan 2 jet engine : Pratt & Whitney JT8D turbofans.

pesawat ini memang terkenal sangat berisik sekali karena rasio udara yang digunakan pada mesinnya adalah 50:50 sehingga suaranya terbilang berisik di bandingkan dengan generasi barunya.

Pesawat ini tergolong paling lama sama dengan pesawat sejenisnya MD-80 dan sudah di tingggalkan karena tidak ekonomis bahan bakarnya dan untuk di beberapa negara pesawat ini dilarang karena aspek Polusi suara.

Kalau mengenai aspek kelayakan terbang memang dalam dunia penerbangan tidak mengenal tahun pembuatan sebagai acuan layak atau tidak layak. Namun dalam dunia penerbangan hanya mengenal 2 kondisi serviceable dan unserviceable. Ini sangat di pengaruhi aspek perawatan yang dilakukan oleh operator-operator penerbangan. yang di kontrol oleh Direktorat Penerbangan sebagai regulasi aspek kelayakkan.

Sriwijaya_Air

batavia_air

kartika

Pesawat ini lama-kelamaan mulai di tinggalkan karena mahalnya biaya perawatan dan bahan bakar. banyak operator-operator di indonesia mulai mengalihkan sewa pesawat dengan tipe sejenisnya yang hemat (boeing 737-300 atau 737-400).

Dan bahkan Operator di indonesia ada kecenderungan untuk mengubah ke jenis yang lebih canggih yaitu Airbus A320 dan Boeing 737-800/900 NG (next Generation).

Semoga dirgantara indonesia semakin maju dengan didatangkannya pesawat-pesawat jenis baru yang canggih dan ramah lingkungan.

kita sebagai masyarakat pengguna menjadi lebih puas dan aman menggunakan jasa layanannya.

Jakarta, 24 dec 2009

Penulis : Handono

10 Nopember 1945………………….

Sepuluh Nopember,  pasti kita sebagai Bangsa Indonesia pasti ingat tanggal ini. Surabaya adalah ikon dari tanggal yang heroic ini dimana dikenal sebagai Hari pahlawan. Kota pahlawan berarti kota para Jiwa-jiwa besar, Jiwa-jiwa tulus mengabdi pada Bangsa. Kecintaan terhadap segenggam tanah kemerdekan bagi penerusnya.

Pekik semangat…….

Pekik Harapan………

Pekik Pengorbanan…….

Itulah yang terucap dari seorang motivator, tapi bukan Mario teguh loh…namun sosok Bung Tomo. Pemuda Surabaya yang mengobarkan semangat arek2 suroboyo untuk mempertahankan kemerdekaan dan yang tidak merelakan sejengkal tanahnya untuk imprealisme dan kolonialisme tradisional.

Bung Tomo setelah pencurahan cita2nya akan sebuah Bangsa dan Negara menyatu menjadi satu, akhirnya mendapat gelar Pahlawan nasional (baru 54 tahun negaranya menyadari…). Tapi Bung Tomo pun kalau ada tidak mempermasalahkan ini, karena cita2 akan pemersatuan dan kedaulatan Bangsa ini lebih besar nilainya dari pada anugrah, gelar ataupun tanda kehormatan.

 

Tulisa saya kali ini megulas bagaimana seorang tokoh Bung Tomo (Pemuda kecil, bukan tokoh nasional) pada waktu itu bisa menggerakkan Masyarakat Surabaya, sidoarjo, mojokerto, Jombang, gresik, dan sekitarnya untuk mendukung penuh perlawanan Sekutu di Surabaya.

Tak lain dan tak bukan adalah Sosok hadirnya tokok Islam yang pada waktu itu mendukung sepenuhnya tak lain dan tak bukan ialah. KH Hasyim Ashary (kakek Gus Dur, Pendiri NU). Ternyata yang baru saya ketahui Tokoh ini yang berperan di balik layar Perlawanan Surabaya. Tokoh yang mengakomodir pemuda2 Surabaya denga fatwa2 nya akan arti sebuah kemerdekaan dan Penghayatan akan Keyakinan akan sebuah pemunajatan Kepada Tuhan yang Maha Esa.

Resolusi yang dikeluarkan:

  1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan
  2.  RI sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong
  3. Musuh RI ialah Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan tentara Sekutu
  4. Umat Islam harus mengangkat senjata melawan Belanda dan tentara Sekutu yang ingin menjajah Indonesia kembali
  5. Perang suci wajib bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, bantuan material bagi yang berada di luar radius tersebut.

(sumber: Wikipedia)

Ternyata resolusi ini berdampak sangat dasyat bagi kalangan arek2 suroboyo dan tak hanya itu ketokohan KH. Hasyim Ashary juga mampu menggerakkan pemuda-pemuda di Surabaya dan sekitar tanpa memperdulikan latar belakang, Keyakinan, Agama (karakteristik ini yang sangat khas di daerah jawa timuran) untuk membela tanah airnya.

Tak hanya itu sikap Pemuda Bung Tomo yang sowan ke tokoh2 masyarakat untuk meminta dukungannya adalah salah satu karakter pemuda yang secara gelora semngat tinggi namun memiliki kesopanan akan tokoh2, dan kepatuhan terhadap tata social yang ada.

Inilah yang menjadi Tonggak pondasi gelora Pemuda Surabaya untuk mendukung penuh perlawanan terhadap sekutu. Dan menjadi tonggak kekuatan angkatan perang , yang membawa dampak secara politik Internasional pada waktu pemerintahan Ir. Soekarno  dan dunia internasonal.

KH. Hasyim Ashari dan Bung Tomo merupakan sosok perwujudan pengabdian dan impian akan sebuah cita2 luhur dari bangsa. Merekalah adalah contoh keteladanan antara kaum muda yang memiliki kesantunan akan Kaum tua (tokoh Seniornya). Walaupun KH.Hasyim tidak mendapatkan kepahlawan dari Negara ini beliau tetap pahlawan mungkin sebuah gelar tidak akan berarti pada tokoh bangsa ini karena kebesaranya akan cita2 sebuah bangsa.

untuk pahlawan-pahlawan bangsa, Yang tercatat namanya maupun tidak. Yang bergelar ataupun yang tidak, Terimakasih atas impianmu dan terimakasih atas Karyamu pada bangsa ini. Semoga kita bisa melanjutkan tonggak-tonggak estafetmu untuk cita2 muliamu.

Jakarta, 6 desember 2009

Penulis

(untuk mu Pahlawanku)

Fitrah Nasional

……………………..Artikel sebelumnya

Penulis: Handono

Pemahaman tentang esensi dari apa yang di amanahkan menjadi sesuatu yang penting dan mutlak dari pada menjalankan amanah tersebut tanpa mengetahui dan hanya mengetahui luarnya saja atau bahkan hanya ikut-ikutan terhadap symbol-simbol atau bendera tertentu.

Butir atau tepung terkadang menjadi bias di masyarakat atau karena kita yang membiaskan sendiri antara keduanya…….(who knows?).

Berkaitan dengan Topik Fitrah Nasional saya sedikit terkejut -maaf saya baru orang awam yang mengikuti majelis ini- adalah bagaimana pendekatan fitrah nasional Bangsa Indonesia dan Masyarakat sebagai entity dari keberadaan bangsa itu sendiri dan sebagai pilar bangsa. Dalam hal ini dari forum ini menkritisi pemimpin bangsa kita dimana sangat pragmatis dalam penyikapan terhadap kebutuhan masyarakat dan ke-makmuman masyarakat terhadap pemimpin yang di tunjuk atau yang di-Imamkan, Sehingga menjadi jurang pemisah yang sangat jauh dan penafsira masing2:

 Pemimpin Negara nggak bisa memahami masyarakatnya……(mungkin masyarakatnya terlalu bodoh) atau Masyarakat nggak bisa memahami Pemimpinnya…………..(karena terlalu tuli)

Sehingga lahirlah produk-produk yang tidak memahami korelasi antara yang satu dengan yang lain…..

Maka dari itu apakah Fitrah Nasional itu sendiri bagaimana penyikapan kita terhadap pemahaman Nasionalisme ini marilah kita dekati bersama Pemimpin sebagai pembawa arah kemajuan masyarakat dan masyarakat sebagai obyek harus melebur bersama dalam serbuk-serbuk udara seperti tepung sehingga apa yang di fitrahkan dari kemerdekaan bangsa akan kita capai bersama…………amien.

  Jakarta, 20 October 2009.

Salam Penulis

(Mencoba menangkap materi dari majelis, kurang lebihnya mohon maaf)

Penulis: Handono

CN-235 merupakan proyek join venture antara CASA (spanyol) dan IPTN (PT. Dirgantara Indonesia sekarang), dengan membentuk perusahaaan bernama “Airtech” untuk memenejnya. Proses Desain dan Produksinya di share 50-50 antara kedua perusahaan tsb. Proses kerjasama (partnership) hanya berlangsung sampai CN-235 seri 10 dan seri 100/110, dengan versi selanjutnya di kembangkan secara independen oleh masing kedua belah pihak. Proses desain dimulai pada januari 1980, dengan uji penerbangan pertama pada 11 Novenber 1983. CN-235 resmi di pasarkan pada 1 Maret 1988. pesawat ini paling canggih di sejenisnya (pada masa itu) karena sudah memakai teknologi flight by wire

cn 235

Origin               : Indonesia and Spain

Type                 : multi-role transport

Max Speed       : 240 kt / 276 mph

Max Range       : 4,355 km / 2,706 miles

Dimensions       : span 25.81 m / 84 ft 8.1 in length 21.35m / 70 ft 0.6 in height 8.18 m / 26 ft 10 in

Weight              : empty 8,800 kg / 19,400 lb max. take-off 16,500 kg / 36,376 lb

 Powerplant       : two General Electric CT7-9C turboprops each flat-rated at 1305 kW (1,750 shp)

 Armament        : rocket launcher,Exocet missiles,and 30mm machine guns.

ref. (http://www.combataircraft.com/aircraft/ccn235.aspx)

Masih ingatkah Pesawat karya anak bangsa di tukar dengan beras ketan? waktu dulu kita belum mengetahui informasi tentang karya anak bangsa ini. Dengan bungkus sinis oknum politik mengeluarkan statement propaganda akhirnya masyarakat jadi ikut2 menghakimi produk karya anak bangsa ini. Coba sekarang kita tengok hasil karya anak bangsa ini sekarang sudah berjaya di negeri orang, bahkan dunia penerbangan, militer serta authority internasional mengakui keandalan pesawat ini.

Krisis ekonomi menghancurkan industri ini dan kebijakan IMF yang kita ketahui baru2 ini pada waktu itu mengharuskan agar IPTN ditutup operasinya. Demi sebagai konpensasi untuk utang ke pada IMF. Tahukan pembaca yang budiman sebetulnya orang asing itu tahu potensi yang tinggi dari bangsa kita…..dan mereka tidak ingin kita maju dan meraih sukses.

Coba kita tengok negara2 yang memesan dan sudah menggunakannya: Botswana, Brazil, Brunei, Brunei (CN-235MP), Burkina Faso, Chile, Croatia, Ecuador, France, Gabon, Indonesia, Indonesia (CN-235MP), Ireland, Malaysia, Malaysia (CN-235MP), Morocco, Oman, Pakistan, Panama, Papua New Guinea, Saudi Arabia, South Africa, South Korea, Spain, Thailand, Turkey, United Arab Emirates, United Arab Emirates bahkan amerika pun sudah memesan lewat negara spanyol. Coba kalau itu 30 % order di PT DI, bayangkan…

Mari Berkarya anak bangsa, Surabaya 25 Sep 2009

Penulis

 

Nurtanio

Nurtanio

Nurtanio Pringgoadisuryo

(lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923 – meninggal 21 Maret 1966 pada umur 42 tahun adalah sebagai perintis industri penerbangan Indonesia. Bersama Wiweko Soepono, Nurtanio membuat pesawat layang Zogling NWG (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada tahun 1947. Ia membuat pesawat pertama all metal dan fighter Indonesia yang dinamai Sikumbang, disusul dengan Kunang-kunang (mesin VW) dan Belalang, dan Gelatik (aslinya Wilga) serta mempersiapkan produksi F-27.

Cita-citanya besar, keliling dunia dengan pesawat terbang buatan bangsanya. Untuk itu, disiapkanya pesawat Arev (Api Revolusi), dari bekas rongsokan Super Aero buatan Cekoslowakia yang tergeletak di Kemayoran. Karena dedikasinya yang tinggi, setelah Nurtanio gugur dalam penerbangan uji coba Arev, namanya diabadikan menjadi Industri Pesawat Terbang Nurtanio (sekarang IPT-Nusantara/IPTN/PT Dirgantara Indonesia).

Cita-cita dan keinginan serta kecintaannnya akan dunia kedirgantaraan sudah dia awali sejak masa Hindia Belanda. Nurtanio pada saat itu berlangganan majalah kedirgintaraan Vliegwereld, dan menekuni masalah aerodinamika dan aeromodelling. Pada masa itu, Nurtanio sering mengadakan surat menyurat dan korespondensi dengan sesama pencinta Aeromodelling pada zaman Hindia Belanda. Diantaranya adalah Wiweko Soepono yang saat itu sudah mendirikan perkumpulan pencinta Aeromodelling serta berlangganan majalah Vliegwereld. (ref. wikipedia)

50 tahun lebih sudah berlalu akankan dunia kedirgantaraan kita bangkit lagi?

kenduri cinta

kenduri cinta

Penulis: Handono

Salam cinta, Anehkan biasanya penulis selalu memulai sebuah artikel dengan “salam pembaca yang budiman”. Khusus artikel saya ini salam cinta.

Genap sudah 20 hari ibadah puasa yang telah saya jalani dan syukur masih diberi kesempatan dan kekuatan oleh pencipta. Baru saja saya melakukan buka puasa bersama dengan rekan-rekan kantor di salah satu rumah teman. Acara berjalan lancar dan meriah walaupun persiapan sederhana. Sepulang buka puasa bersama kira2 jam delapan malam salah satu teman ku yang lain mengajaku dalam suatu pengajian salah satu tokoh masyarakat yang terkenal di kalangan masyarakat jawa timur atau di nasional Indonesia.

Malam itu langsung bergegas menyiapkan motor legendaku langsung tancap gas bertiga dengan teman2 yang lain menuju Taman Ismail Marzuki di daerah Jakarta maklum walaupun 2 tahun di Jakarta aku masih belum tau jalan akhirnya nyampai juga ternyata pengajian sudah berlangsung lama diadakan di Jakarta ini dengan komunitas lumayan banyak atau bahkan seluruh lapisan masyarakat yang ada di Jakarta atau yang mau meluangkan waktunya untuk duduk di terpal lusuh bahkan ada yang pakai Koran sebagai alas dan tenda 1 strip yang paling jelek menurutku (ref. pengalaman mengadakan acara-acara semasa kuliah dulu) dan kalau nggak kebagian tendanya langit. Sebutulnya saya tidak suka mengatakan itu sebagai komunitas karena kenyatannya di ruang tersebut tidak ada keterikatan tidak ada persyaratan hanya ada satu pemahaman kebersaman menerima ilmu dan berbagi ilmu satu sama lain.

Menakjubkan  

Pengalaman pertama mengkaji dari apa yang di sampaikan dalam majelis ini sangat terbuka mengkritisi paradigma pragmatis yang di keluarkan oleh para pembuat kebijakan dan perumus kebijakan. Sangat ringan tapi makna yang terkandung cukup tinggi bobotnya. Sepintas memandang orang-orang yang hadir disini memancarkan mata2 penu harap akan kedatangan tokoh atau Pembina atau yang di jadikan motor penggerak dalam majelis ini. Salah satu yang menarik dalam majelis ini adalah antusias peserta dengan di selingi tawaran oleh pedagang-pedagang kopi, susu, pop mie dan kacang rebus mengingatkan saya di malam-malam kota Surabaya.

Angin malam mulai menunjukkan keindahan serta kekuatan pada tubuh yang tidak berjaket, dan saat itu pula pembicara majelis kenduri cinta menampakkan dirinya. Cak Nun ditemani orang-orang pengisi acara yaitu dik doang (dengan kandang jurangnya heheheh….), anggota DPR dari papua (2 org), musisi tanah abang dan pengisi lain yang saya nggak tahu namanya. Jangan anda bayangkan majelis ini semua nya memakai baju putih-putih dan berkalung surban semua ternyata tidak, mereka memakai baju kesahajaan dengan ciri khasnya masing2. Topik majelis terbut adalah Fitrah nasional dan Indonesia memandang sejarahnya (seperti artikel saya “sejarah part 2”) atau saya senang menyebut renaissance Indonesia.

 Dalam materi ini menerangkan kita bagaimana kita memandang indonesa secara budaya, seni, moral karena Indonesia terbentuk karena persamaan budaya yang melebur menjadi sebuah keinginan akan sebuah bangsa yang menerima butiran-butiran asimilasi dari produk2 kreasi pemikiran masyarakatnya.

Fitrah Nasional

Dalam pengejawahan dari Cak Nun bagaimana kita memposisikan kita sebagai warga Negara dan warga negara yang diberi amanah pembuat kebijakan. Dan bagaimana kedua nya berasimilasi kedalam sebuah butir tunggal dari penyatuan nutrisi-nutrisi pemikiran, cinta, budaya, apresiasi, kekeluargaan, perbedaan. Dalam ulasan Cak Nun tentang istilah Butir dan Tepung, saya coba mengulasnya bedasarkan tafsiran

pemikiran saya yang saya coba pahami dari buku Gus Mus-satu rumah seribu pintu tentang pemahaman wasilah dan ghayah.

Tepung: adalah sebuah pemahaman bahwa kita sebagai insan indonesia memiliki pemahaman seperti serbuk tepung dimana kita adalah nutrisi-nutrisi pemberi manfaat, nutrisi-nutrisi pemikiran, idea. Atau bentuk lain dan kita mampu menyatu dengan yang lain.

Butir: adalah kumpulan yang mengatas namakan sebuah komunitas dan menganggap eksistensi sebuah komunitas adalah kekuatan, kekuatan yang bisa menjadikan status social atau kekuatan untuk meng-esklusifkan diri dari yang lain. Parahnya butir kadang memiliki pandangan-padangan dengan ruang yang sempit. Cak Nun: Parpol saat ini itu apakah butir atau tepung? Cak Nun: jabatan menteri itu apakah butir atau tepung? Jawablah sendiri pembaca yang budiman tentang pertanyaan ini…….

Bersambung…….

Cengkareng, 13 Sep 2009 (penulis)

 

                                                                                                                                         

Bali3-4

Penulis: Handono

Pembaca yang budiman,
Masih ingatkah anda dengan lirik lagu rasa sayange, Kreasi batik tulis, Kesenian Reog ponorogo. Tentu kita ingat karena itu merupakan warisan budaya dari Negara Indonesia. Budaya Indonesia lahir dari keberagaman pulau dan letak geograafis antara daerah satu dengan daerah yang lain. Budaya ini lahir karena kreasi daya cipta masyarakat setempat karena pencampuran antara kebersamaan dan suatu kepercayaan atau keyakinan masyarakat tentang Dzat yang maha kuasa.

Budaya
Budaya melahirkan identitas komunitas diantara masyarakat, dan tak jarang dari budaya dengan ruang lingkup yang kecil menjadi sebuah budaya yang menjadi ideantitas suatu Bangsa bahkan Negara. Budaya-budaya ini akan melahirkan sebuah kebanggan dan kecintaan suatu komunitas akan sebuah pencitraan tentang tingginya sebuah peradaapan dari sebuah negeri akan nilai seni dan intelektual kreatif.
Pada era modern atau saya yanglebih suka mengatakan era liberasi informasi dan hukum. Dimana aspek legalitas di junjung tinggi tanpa mengedepankan aspek moral dan etika, akan membentuk suatu stigma yang memandang bahwa produk budaya adalah produk ekonomi dan yang namanya ekonomi merupakan wadah explorasi pundi2 uang…..

Pencurian Budaya
Malaysia merupakan negara pesemakmuran yang kini banyak mengklaim terhadap budaya2 Indonesia dan yang paling hangat adalah pengakuan atas tari pendet yang berasal dari Bali dan bahkan banyak lagi aspek budaya local lainnya seperti batik, kesenian reog, Lagu rasa sayange, kesenian Kalimantan dan lain-lain.
Malaysia sebagai Negara pesemakmuran melihat adanya budaya tanpa Haki adalah sebuah budaya yang bisa diperjual belikan atau dibisniskan tanpa melihat etika dan moral dari budaya itu sendiri dikarenakan mungkin di Negara tersebut tidak memiliki identitas akan sebuah budaya.
Apa ini di biarkan saja?…….
Berapa banyak lagi budaya kita diambil? Budaya apalagi yang akan kita lepas?
1. Tari saman , tari dayak, tari lenong, tari topeng, dan tari2 lain
2. Kesenian ondel2, Reog, kerapan sapi, kesenian papua.
3. Upacara ngaben?
4. Makanan Tahu dan tempe (klaim Jepang)

sikin1
Beberapa kartunis di Surabaya membuat sebuah komik indie dimana di surabya dengan adanya klaim dari budaya Indonesia sudah mulai geram dan marah akan tindakan Negara lain dan sikap kurang tanggapnya kita sebagai pemilik budaya hingga diplesetkan dalam humornya untuk budaya “mengumpat”/ bicara kotor bisa di klaim Negara lain. Hahahaha nggak kebayang saya…
Mau tunggu apalagi? Sekarang baru Negara pesemakmuran Malaysia, mungkin besok Negara Singapura, Amerika, Belanda, Jepang, Perancis atau bahkan meningkat sekarang yang baru di klaim budaya besoknya pulau2 kita…………..

Indonesia sebagai Negara dan bangsa harus sigap menanggapi era perkembangan zaman pada saat ini dimana aspek legalitas dan hukum dijunjung tinggi dimana budaya tidak lagi menjadi sebuah identitas namun juga menjadi sebuah Sumber Daya Alam.
Dalam ulasan saya ini saya mencoba memberikan usul terhadap langkah2 penyelamatan budaya:
1. Mulai inventarisasi terhadap produk budaya dan klasifikasinya
2. Produk budaya tersebut didaftarkan sebagai Made in Indonesia, dimana aspek ekonomi dari penggunaan keperluan di luar Indonesia bisa digunakan sebagai PDB di tiap daerah.
3. Daftarkan ke HAKI versi internasional sehingga adanya legitimasi hukum di internasional akan perlindungan budaya.
4. Serah kelolakan budaya ini di departemen kebudayan/pariwisata dengan bekerjasama dengan departemen budaya di tiap provinsi.
5. Atau bahkan Teknis pemilu kita yang merupakan produk budaya akan demokrasi daftarka juga
6. Lakukanlah secepatnya!!
Kalau bukan kita sebagai warga Negara dan Pemerintah sebagai penyelenggara Negara terus siapa lagi yang melindungi dan peduli budaya kita, asal tahu saja banyak Negara lain yang merorong budaya kita untuk di jadikan aspek ekonomi. Karena Dewasa ini Budaya tidak menjadi lagi dipandang sebagai warisan kreatifitas tapi juga budaya pada zaman/ era baru ini menjadi SUMBER DAYA ALAM yang nilai aspek ekonomisnya sangat tinggi.
Jakarta, 23 Agustus 2009
Penulis
(Mari bersama memangun bangsa,Indonesia bisa)

Propaganda buku

salam hormat,

Perang buku Capres, Dalam dunia tulis menulis hal seperti ini sangat di nanti-nanti, karena selain berisi propaganda image namun juga ada sisi kemampuan para calon/ penulis dalam tim suksesnya untuk menjabarkan bagaimana visi dan misi menurut pandangan mereka. Bagaimana rencana implementasi rancangan para calon terhadap permasalahan-permasalahan yang ada.

Perang buku juga menambah khasana dunia tulis-menulis kita. dan yang penting rakyat nggak jadi korban.

salam.
Penulis

All About Me

Welcome to My World

Ini adalah sebagian tulisan Saya. Banyak opini pribadi yang tertuang dalam Blog ini dan informasi sebagai wacana.

Jangan lupa meninggalkan alamat website anda sehingga bisa saling berkomunikasi dan menjalin pertemanan.

Salam kenal pembaca yang budiman. Mari kita NGEBLOG bersama.

Kategori

Pengunjung

  • 11,217 hits

SocialVibe